HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

Posted on 24/11/2009 by ihinsolihin

(Mengenang “Kartini” Dalam Kegamangan Jaman)

Oleh : Drs. Solihin

“Wanita tak lebih dari seorang budak bahkan lebih buruk dari budak.Laki-laki tidak hanya menginginkan wanita sebagai budak biasa tapi budak yang terbaik yang dapat melayani majikannya sesuai dengan kemauannya”
(Jhon Stuart Mill,in “The Subjection of Woman”.)
“Ibu kita kaltini,putli sejati,putli indonetia,alum namanya”.Hanya sepenggal itulah yang dapat dinyanyikan oleh si bungsuku disuatu sore sehabis melihat iklan peringatan Hari kartini di Televisi.lalu serta merta dia bertanya kepada Mamanya,”Ma’,bu kaltini itu siapa ma ? ,lumahnya dimana si ma ? olangnya baik ya? Pertanyaan-pertanyaan polos itu terus saja meluncur tanpa menunggu jawaban sang Mama. Sang mamapun kelimpungan menjawabnya.
“Tanya saja sama ayahmu” jawab sang mama enteng.Sebuah jawaban yang lihai dan berkelit namun terkesan licik.Tanpa kita sadari ternyata kita mulai mengebiri sejarah yang seharusnya mengalir tidak mesti dibendung, seperti air suatu saat akan menjadi banjir besar dan akan menenggelamkan sejarah bangsa ini.
Siapa yang musti disalahkan ? sang mama ? yang pengetahuannya terbatas,atau guru disekolah ? Bangsa dan Negara (pemerintah) ?. Tak ada gunanya untuk saling menyalahkan. Padahal pertanyaan Sibungsuku tadi adalah pertanyaan yang mewakili generasinya saat ini.Kenapa tidak? karena Raden Ajeng Kartini sudah bukan Idola lagi untuk jamannya.
Sibungsuku lebih mengidolakan Sule dan Jaja yang selalu tampil dalam selebriti Show setiap malamnya,lebih mengenal Maia dan Ahmad Dani karena prahara rumah tangganya ,lebih gila lagi Mamanya Sibungsu pun ikut-ikutan terlibat secara emosional memaki-maki Ahmad Dani karena ingin menceraikan Maia.
Itulah hebatnya Media Televisi saat ini,pintar menjual Obat batuk dan obat Sakit Kepala sehingga mampu mempengaruhi seisi rumahku.Pantas saja RA. Kartini kini tinggal menjadi sejarah dalam berita Bukan lagi berita dalam sejarah.
Kasihan bangsa yang besar ini,bangsa yang telah dibangun oleh sejarah dan dibesarkan oleh sejarah namun sejarahnya tinggal kenangan masa lalu yang tak lagi melekat pada mental dan semangat generasinya.Apalah jadinya bangsa ini ,ketika kelak generasinya tak lagi menemukan sejarah bangsanya,mereka akan kehilangan jati diri.Sungguh mengerikan.
OLEH-OLEH DARI RA.KARTINI
(Emansipasi atau kesetaraan gender ?)
Emansifasi merupakan sebuah kata laten dalam perjalanan sejarah kewanitaan di Indonesia. Sejak dulu tak henti-hentinya diperdebatkan, hingga sekarang meski sudah ada yang bisa menginterprestasikan tapi masih saja tanpa kesimpulan yang jelas. Padahal apa sebenarnya yang dimaui kartini ? mungkin persamaan hak antara wanita dan pria? Atau kah ia hanya salah seorang pendobrak ke ningraten jawa ? seandainya kartini masih hidup mungkin permasalahan ini tidak akan berlarut-larut . tapi syukur, seandainya beliau masih ada, beliau akan tertawa, menangis dan kecewa.tertawa lantaran wanita –wanita dinegerinya masih terbata-bata membaca cita-citanya, menangis dan kecewa lantaran kian hari emansifasi kian mirip saja dengan liberalisasi dan Feminisasi.
Emansifasi ala kartini tidak dapat diartikan kecuali dengan apa yang tersirat didalam kumpulan suratnya” door dvistemis tot licht” yang terlanjur diartikan sebagai “ habis gelap terbitlah terang “ oleh armin pane. problemanya sekarang, emansifasi corakmana yang ingin diwujutkan/tampilkan oleh wanita-wanita Indonesia dewasa ini ?. untuk menjawab semua itu kita harus berbalik kebelakang mengkaji lebih jauh kehidupan nenek moyang kita sebagai bangsa timur serta menyimak berbagai macam dimensi yang menjadi ciri masyarakat kita sebagai masyarakat yang beradab,suku,agama,adat dan rhas tidak lepas dari pemikiran kita agar supaya emansifasi tidak kita artikan seenak kita saja. Emansifasi ala barat hanya bisa diterapkan pada Negara yang hidupnya liberal, bagi kita bangsa Indonesia bangsa yang beradab ciri emansifasi yang kita inginkan jangan lepas dari kacamata pancasila, pancasila dalam artian prinsip tempat bermuaranya segala sikap, prilaku serta pola pikir masyarakat Indonesia.
Dalam hal ini kita tidak perlu berkiblat kebarat, kenapa kita lebih percaya kepada omongannya jhon stuart mill lewat bukunya “the sub jection of wowan “ mill kan seorang filosof barat jelas pula pikiran dan wawas pandangnya berkiblat ke barat. Mengapa tidak kita ambil saja “ door doistemis tot licht”sebagai bahan kajian agar kita dapat memahami apa yang dimaui kartini. Kita jangan larut oleh mill, karena pemikirannya yang redikal dan eksiomanya kurang obyektif bahkan membingungkan. Contoh saja pernyataannya : “ bahwa wanita tidak lebih dari seorang budak bahkan lebih buruk dari budak. Laki-laki tidak hanya mengingatkan wanita sebagai budak Biasa tapi budak yang terbaik yang dapat melayani majikannya sesuai dengan kemauannya.
Disuatu sisi dia ingin membela emansifasi wanita tapi disisi lain ia melecehkan bahkan mengxploitasi hubungan harmonis antara wanita dan pria. Kalau kita pikir lebih jauh bukankah emansifasi akan Nampak apabila dalam kancahnya hadir pria dan bahkan emansifasi tidak akan terwujud tanpa ada dorongan dari kaum pria. Jelasnya keterkaitan wanita dan pria dalam proses kehidupan merupakan salah satu yang azazi. Hubungan yang harmonis dan seimbang, saling sikap mensikapi serta hormat-menghormati dalam menjalankan hak dan kewajiban masing-masing perlu ditegakkan. Aktulisasinya, dalam pembangunan nasional kita dewasa ini peranan wanita berbagai sector cukup memberikan peluang untuk berkembang. Wanita merupakan mitra sejajar pria serta mempunyai hak dan kewajiban serta kesempatan yang sama dengan pria dalm pembangunan disegala bidang.
Hal ini Nampak bahwa kebebasan wanita dalam pembangunan tidak timpang tapi bukannya kebebasan yang unlimit tapi justeru yang melimitasikanya adalah kodrat wanita itu sendiri.Melahirkan,menyusui,menstruasi merupakan kodrat yang tidak bisa dirubah.
Dizaman kemajuan teknologi yang begini canggih wanita terlihat semakin hebat dan perkasa, hampir setiap sisi kehidupan ini tak luput dari kehadiran mareka, dari sopir taxsi sampai ketukang ojek bahkan dibidang olah raga: karate,gulat,sepak bola, angkat besi serta cabang-cabang lainnya. Semua ini mengundang Tanya dalam bedak kita, pantaskah ? asumsi sementara, mungkin itu pantas selama kaum wanita tidak meninggalkan kodrat kewanitaannya yang menyimpang dengan emansifasi yang dikehendaki kartini.
Tapi meskipun prestasi dan karier mereka semakin melangit apabila kodrat menghadang, prestasi dan kerier pun jadi suram kalau karier dan prestasi suram maka emansifasipun jadi mandeg. Dapat kita bayangkan apabila wanita mulai mengandung atau menyusui, mungkin seseorang wanita yang menjadi astronot gagal naik kebulan lantaran perutnya yang kian membuncit, atau seorang atlet wanita yang prestasinya sedang melejit harus membungkam karena perutnya sudah mulai membuncid karena hamil. Dalam hal ini siapakah yang kita salahkan ?
Barang kali dari sinilah kita mulai berpikir dan mengambil kesimpulan bahwa yang membatasi kebebasan wanita itu adalah kodratnya sendiri dari sejak mereka hamil, mengusui anak sampai kemasa membimbing anak untuk untuk mengerti bahasa ibu, seorang wanita yang sudah harus mendekam didalam rumah mengurus rumah tangga, memasak untuk suami , mengurus anak dan menjadi seorang istri yang baik . sekali lagi kodrat yang berbicara, mungkin selama ini yang menyebabkan selama ini timbul anggapan wanita hanyalah pelayan pria dalam rumah kerjanya hanya didapur dan dikasur. Anggapan semacam ini sungguh bagaikan racun yang membangkitkan emosi kaum wanita, mereka merasa dilecehkan, dikesampingankan sehingga menimbulkan protes emansifasi sebagai alatnya.
Kelemahan dan kelebihan yang dimiliki kaum wanita hampir tidak dapat kita pilah-pilahkan, justeru kelemahan mereka menjadi kelebihannya. Dapat di bayangkan seandainya dunia ini tanpa wanita tentu bumi bagai kota mati yang terpenuhi tentara laki-laki tak bisa melahirkan keturunan. Seandainya surga itu dibawah telapak kaki bapak mungkin akan menambah superiornya laki-laki , tetapi surga itu dibawah telapak kaki ibu siapa yang berani mendustainya. Sunggu suatu kelebihan yang sangat agung, kelebihan dan keagungan mereka tidak hanya stop sampai disitu, baik buruknya sebuah Negara tergantung kepada baik dan buruknya wanita. Sungguh suatu pengakuan yang sangat fantastis sehingga disetiap Negara diatas dunia ini punya ibu kota tidak ada bapak kota. Kembali kita akui bahwa kelemahan wanita adalah kelebihan yang kita miliki masihkah kaum wanita mengingkarinya ?
Memang secara fisik pria jauh lebih kuat bukan lantaran itu wanita jadi tolol. Kita bisa lihat betapa hebat wanita seperti Rosa Luxeburg, Mercy Oter Wareen, Mary Wolls onec-reft, Louse Cably, mereka adalah wanita-wanita yang hebat
“Memang secara fisik pria jauh lebih kuat bukan lantaran itu wanita jadi tolol. Kita bisa lihat betapa hebat wanita seperti Rosa Luxeburg, Mercy Oter Wareen, Mary Wolls onec-reft, Louse Cably, mereka adalah wanita-wanita yang hebat yang dapat mempengaruhii dan mewarnai pergolokan politik didaratan eropa awal tahun 1914. Kemudian pada paska abad ke-20 wanita seperti Margaret Theacher dan Cori Aquino masih mampu menunjukan kepada dunia untuk memimpin Negara . walaupun kehebatn mereka tinggal puing-puing kenangan yang pantas dicatat oleh sejarah.
Di Indonesia hal serupa juga terjadi, dari seorang Cut Nya’ din sampai kepada R.A. kartini mampu menyulut api revormasi emansifasi, mendobrak kebobrokan adat , mengangkat martabat wanita dari pelecehan seperti cut ture dan kolonoalisme. Door Douisternis tot licht adalah sejarah ampuh kartini , oleh prof. DR. Hartati Soebadio ( cucu tiri kartini ) nota bene mantan mensos RI. Mengartikan dari gelap menuju cahaya. Yang perlu diketehui emansifasi corak kartini tidak sama dengan emansifasi corak rosa ataupun louise cably.
Kartini adalah sosok bangsawan ( ningrat) yang lekat dan menjunjung adat tapi sesungguhnya ia salah seorang yang menentang dan mendobrak keningratan , seperti bunyi surat kartini pasa stella,18 agiustus 1899 “ peduli apa aku dengan tata cara itu, segala peraturan–peraturan bikinan manusia dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etika didunia keningratan jawa itu, tapi sekarang mulai dengan aku , antara kami ( kartini,rukmini,dan kardina) tidak ada tata cara lagi . perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas mana cara liberal itu boleh di jalankan.”
Dari tulisannya Nampak kartini ingin bebas dari kurungan adat yang membelegunya. Kalau keningratan seseorang diukur dengan darah maka untuk masa sekarang keinginan semacam itu sudah punah, tapi timbul keningratan model-model baru seperti keningratan titel, keningratan jabatan, keningratan ekonimi. Tapi anehnya kartini-kartini masa kini bukannya menentang keningratan baru tersebut malahan dibiarkan, ditonton dan dirasakan sehingga mereka sendiri yang jadi korban.
Kartini yang tadinya berpola pikiran barat mulai mengenal islam dari Muhammad sholeh bin umar , dari sini ia mulai tertarik lalu ia meminta kiai sholeh untuk menterjemakan Al-Qur’an kedalam bahasa jawa, lewat terjamahan ini kartini mulai mengajikan islam. Ia begitu terkesan dengan Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 257 , sering ia menulis dalam suratnya” Minadh Ulumaati ilannur” barangkali kata-kata itu yang melatar belakangi judul bukunya.
Setelah mengenal islam sikapnya terhadap barat mulai berubah, ia bahkan mencelah dan mencemooh konsep barat dan mulai memperbaiki citra islam. Seperti yang tertulis dalm suratnya kepada nyonya Abendanon, 5 maret 1902 “ Astagfirullah, alangkah jauh nya saya menyimpang. Kami sekali-kali tidak akan menjadikan murid kami menjadi orang setengah eropa dan orang jawa yang kebarat-baratan”.dari sini Nampak bahwa ingin rasanya kartini mempertahankan keberadaan dirinya sebagai wanita Indonesia yang asli, ia tidak mau kehilangan karakter dirinya sebagai orang, muslimah sekali gus sebagai orang Indonesia. Tapi terbaiknya, dizaman modern ini dapat kita lihat betapa kehendak kartini itu jauh menyimpang diterjemah oleh kartini-kartini mudah saat ini .
Dengan surat kartini yang tercecer, 12 oktober 1902 : pada nyonya abendanon “ dan saya menjawab tidak ada tuhan selain Allah. Kami menyatakan bahwa kami beriman kepada Allah, kami ingin mengabdi kepadanya dan bukan kepada manusia jika sebaliknya tentu kami sudah memujah orang dan bukan kepada Allah”
Konsep-konsep emansifasi dari barat merupakan konsep yang sangat keliru yang hanya menimbulkan krisis perasaan kewanitaan , krisis perasaan keibuan. Bukan kah islam tidak melarang orang berkarier?
Islam hanya memberikan batasan bahwa betapa pun karier seorang wanita harus ditata sehingga tidak melecehkan martabat kewanitaannya, dan hal ini pula pada hakekatnya dimaui kartini.
Seperti suratnya kepada prof. Anton 4 oktober 1902: “bukan sekali-kali kami menginginkan anak perempuan menjadi Saingan anak laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi wanita agar lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri dalam tangannya menjadi ibu,pendidik manusia yang pertama”.
Dalam suratnya kali ini, mengandung makna emansifsi yang sebenarnya, wanita adalah teman hidup laki-laki, patner dalam perjuangan hidup. Wanita tidak perlu menjadi saingan laki-laki toh kita juga sama-sama punya hak dan kewajiban. Apakah terlalu hina kalau perempuan dinomor duakan? Jangan kita selalu angkuh mempertahankan ambisi, sampai akhirnya duniapun permasalahan ini tidk akan pernah usai kalau terus saja kita perdebatkan. Mari kita kembali kepada Al-Qur’an dan mengkajinya agar kita tidak kesasar.
Kalau Al-Qur’an sudah mengatakan “ arri jaalu kawwaamuna alannisa” bahwa laki-laki itu adalah pemimpin dari wanita, kenapa kita mesti mempermasalahkannya lagi. Dari Sini marilah kita menjernihkan pikiran bahwa kita adalah generasi-generasi kartini.
Pada kesimpulannya, tragedy kartini bukanlah tragedi yang menimpah seorang manusia pada hari kemarin , tapi tragedy yang menimpah semua umat sepanjangn abad . karena itu kita harus mampu menterjemah cita-cita kartini dan mampu memahami arti emansifasinya yaitu emansifasi yang bukan kebebasan yang takbertanggung jawab tapi merupakn karakteristik wanita Indonesia sebagai bangsa timur dan beradab. Sehingga exis tensi emansifasi kartini tidak melenceng dan menjadi bumerang bagi perkembangan wanita di Indonesia . kartini merupakan salah satu contoh figur sejarah yang kalah menghadapi pertarungan ideology, tapi jangan kecam kartini karena meski bagaimana pun dia telah berusaha mendobrak adat , mengelak dari barat, seperti salah satu suratnya kepada nyonya Ovink soer, oktober1900.Selesai ………..
Biodata Penulis :
Guru PAI SMPN 1 Utan
(Pembina Redaksi “Suarasiswa” SMPN 1 Utan)

Baca Artikel yang lain

Tentang SMPN 1 UTAN

Mediator Sekolah antara Siswa,Guru,Sekolah dengan Masyarakat
Pos ini dipublikasikan di ARTIKEL dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s