Apakah selamanya guru dipersalahkan?(CASE STUDY)

 

Apakah selamanya guru dipersalahkan?
Oleh : Nasaruddin, S.Pd (Guru Bahasa Inggris SMPN 1 Utan)

Pada hari sabtu minggu lalu yang secara kebetulan akhir dari bulan oktober, saya masuk nagjar seperti yang sudah terjadwal yaitu dikelas VIII PRSBI. Dengan penuh semangat dan percaya diri karena sudah sipersiapkan semua kebutuhan belajar-mengajar pada malam harinya dengan harapan siswa/i ku barsemangat dan senang mendapatkan penjelasan materi dari saya supaya meraka juga bisa merasakan nikmatnya bisa menguasai bahasa internasional ini.
Sebelum pembelajaran saya mulai, saya pun melakukan proses pembelajaran dari awal secara berurutan mulai dari greeeting, aperseption dan tidak lupa pula saya memberikan pemaparan tentang tujuan dari pembelajaran kita saat itu yaitu agar siswa terampil dalam merangkai kata demi kata menjadi sebuah kalimat dan merangkaikan kalimat demi kalimat agar terbentuk sebuah paragrap dan serterusnya sehingga terbentuklah sebuah paragrap yang tertulis dalam bentuk teks recount.
Pada saat itu saya mencoba untuk mengembangkan speaking skill dari siswa/iku. Pada halaman 48, practice 2 dari Chapter 3 terdapat sebuah dialog ynag memberikan ilustrasi sekilas tentang jenis tulisan recount. Saya pun mencoba mengaplikasikan kata-kata yang sering saya ucapkan kepada siswa/iku sebagai stimulus bagi mereka yaitu “untuk menguasai bahasa inggris haruslah dengan kerja keras dan salah satu dari bentuk kerja keras itu adalah harus dihafal”. Saya mencoba memberikan meraka waktu 1×40 menit untuk menghafal, setelah saya bagi menjadi beberapa kelompok dimana perkelompok terdiri dari 3 siswa. Akan tetapi terlebih dahulu saya membacakan dialog yang sudah mereka lengkapi itu yang diikuti oleh mereka 2 kali.
Setelah 1×40 menit berlalu, saya mengacak kertas nama kelompok mereka untuk memberikan kesempatan bagi mereka untuk unjuk kebolehan. Satu demi satu kelompok dari siswaku maju sampai semua kelompok mendapatkan kesempatan untuk practice dan penilaianpun tetap saya lakukan dan saya melihat beberapa siswa practice their speaking skill without understanding well what they say according to the dialogue, dan itu merupakan kewajaran di dunia pendidikan, namun ketika saya menjelaskan lebih detail tentang dialaog yang mereka hafal itu ternyata masih ada beberapa siswa yang asyik bercanda dan tertawa sambil memainkan dasi ditangannya dengan temannya dan ada juga yang asyik buka laptop bukan dengan keperluan belajar namun melihat photo-photo dari teman-temannya.
Akhirnya saya sedikit emosi melihat ulah siswa ku itu, kemudian saya lansung ambil dasi tersebut dan saya lipat 4 untuk menghukumnya apabila dia tidak tahu makna kaliamat yang akan saya tanyakan. Kemudian saya tanyakan sebuah kata yang sudah saya terjemahkan tetapi dia tidak tahu maknanya karena ketika saya berikan penjelasan mendetail dia sedang asyik mein-main, dan saya pun memukulnya beberapa kali.
Tidak lama setelah saya hukum, belpun berbunyi yang menandakan pergantian jam pelajaran, namun sebelum saya akhiri, saya memberikan kesimpulan dari pembelajaaran kita saat itu dan tidak lupa saya selipkan beberapa nasehat dengan harapan kejadian serupa tidak terjadi lagi oleh pelaku yang sama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s