GENERIK-1: Case Study

GENERIK-1: Case Study

JIKA TIDAK PAHAM, KENAPA TIDAK BERTANYA?

Oleh: Sarifuddin, S.Pd

            Pada hari Selasa tanggal 10 November 2009 pada jam pelajaran pertama hingga jam ke dua yaitu pukul 07.30 – 08.50 saya mengajar di kelas VIII-1 membahas materi gradient garis lurus. Seperti biasanya saya masuk kelas dengan mengucapkan Assalammualaikum dan anak-anak menjawabnya dengan Waalaikummussalam. Dengan basah basih saya menanyakan khabar dan keadaannya kemudian anak-anakpun menjawab dengan jawaban baik-baik saja.

Sebelum pembelajaran dimulai saya berkeliling memeriksa kesiapan siswa, setelah saya melihat siswa sudah siap mengikuti pembelajaran maka saya memulainya dengan menanyakan tugas PR pelajaran yang lalu yang mereka anggap sulit sebagai apersepsi, kemudian membahasnya secara bersama-sama yang walaupun sebagian besar diantara mereka tidak mengerjakannya. Setelah itu saya memberikan motivasi tentang pentingnya mempelajari materi gradien garis lurus dan menjelaskan kompetensi dan indikator pencapaiannya.

Kegiatan inti dimulai dengan menanyakan kepada siswa apa yang mereka ketahui tentang gradien garis lurus sebagai umpan balik, mereka tidak ada yang menjawab satu orangpun, maka saya menjelaskannya dengan sekali-sekali melemparkan pertanyaan kepada mereka. Dari pertanyaan-pertanyaan yang saya lemparkan siswa tidak ada yang menjawab, walaupun ada satu atau dua orang yang menjawab tapi jawabannya ragu-ragu. Saya mencoba menjelaskan dengan contoh-contoh yang lebih kongkrit agar mereka dapat memahaminya dengan baik. Saya menyuruh siswa duduk dengan kelompoknya masing-masing yang sudah terbentuk, kemudian saya bagikan LKS untuk dikerjakan secara berkelompok. Saya berkeliling sambil memperhatikan diskusi kelompok, dan memberikan bimbingan kepada kelompok-kelompok yang mengalami kesulitan, tapi kenyataannya rata-rata kelompok mengalami kesulitan. Untuk mengatasi masalah itu dengan metode tanya jawab saya menjelaskan secara umum sambil mengamati tingkah laku siswa. Dari pengamatan saya dalam proses pembelajaran tersebut tingkah laku siswa bermacam-macam, ada yang serius memperhatikan penjelasan saya, ada juga yang diam atau pasif bahkan ada juga yang usil mengganggu temannya. Didalam proses pembelajaran itu juga ditiap akhir sesen penjelasan saya selalu menanyakan tentang pemahaman mereka dan merekapun menjawabnya dengan kata paham atau mengerti, bahkan saya luangkan waktu untuk memberi kesempatan kepada mereka menanyakan hal-hal yang mereka anggap belum pahami, dan hampir dipastikan bahwa tidak ada satupun siswa yang bertanya. Saya merasa senang dan puas ternyata anak-anak dapat memahaminya dengan baik. Kemudian untuk mengetahui daya serap atau prestasi siswa maka saya berikan soal-soal untuk dikerjakan secara individu, setelah beberapa saat waktunya merasa sudah cukup saya menanyakan hasil pekerjaan mereka, ternyata hasilnya sangat mengecewakan, karena kurang dari 50% soal tersebut dapat dijawab dan hanya sebagian kecil dari siswa itu yang dapat menjawab.

Sebelum saya akhiri pembelajaran karena jam pelajaran hampir habis, saya bersama siswa menyimpulkan pelajaran pada hari itu dan menugaskan siswa untuk mengerjakan soal-soal yang belum terselesaikan sebagai PR. Pelajaran pada hari itu saya tutup dengan menyarankan supaya berlatih dengan banyak dan berusaha mencari buku paket atau buku penunjang lainnya. Saya tidak habis pikir kenapa siswa tidak mau bertanya tentang hal yang mereka belum pahami, dan juga saya merasa heran sementara tiap akhir sesen penjelasan saya selalu menanyakan kepahaman mereka dan merekapun menjawab sudah paham atau sudah mengerti. Dalam hati saya bertanya-tanya kenapa siswa sulit paham, apakah materinya terlalu rumit ataukah penjelasannya yang memang kurang jelas atau metodenya tidak tepat, itulah yang menjadi beban pikiran saya. Dan saya membayangkan juga apakah mereka dapat mengerjakan soal-soal yang saya berikan sebagai PR.

GENERIK-2

IDENTIFIKASI MASALAH

Oleh: Sarifuddin, S.Pd

 

Masalah yang muncul dalam Pembelajaran Masalah Pembelajaran yang dipilih untuk diangkat sebagai PTK Analisis Masalah (kemungkinan penyebab masalah) Alternatif solusi
1. Siswa masih kurang memahami konsep dasar materi pelajaran

2. Siswa tidak mengerjakan PR

3. Siswa tidak memiliki buku penunjang

4. Sebagian besar siswa tidak dapat menjawab pertanyaan guru

5. Siswa tidak berani bertanya

6. Siswa kurang motivasi dalam pembelajaran

7. Prestasi belajar siswa kurang dari 50%

7. Prestasi belajar siswa kurang dari 50% 1. Siswa kurang termotivasi

2. Metode pembelajaran kurang tepat

3. Siswa tidak aktif dalam kerja kelompok

4. Guru banyak berceramah dan monoton

5. Hasil Tes formatif kurang dari 50%

Penggunaan pola latihan berjenjang

RUMUSAN MASALAH:

Bagaimanakah Penggunaan Pola Latihan Berjenjang dalam Pembelajaran Matematika  dapat meningkatkan Prestasi Belajar Siswa kelas VIII-1 SMP Negeri 1 Utan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s