HIDUP DARI MENGAIS SAMPAH

Langkahnya tertatih-tatih sambil memikul sebuah karung goni usang menyisir seluruh halaman Sekolah SMPN 1 Utan seakan tak ada satu bagian dari sekolah ini yang tidak disusurinya, mengorek-ngorek onggokan sampah mencari segala jenis sampah mulai dari plastic sampai besi sekalipun.

Lelaki setengah baya ini hampir setiap hari selalu hadir di SMPN 1 Utan setiap usai jam istirahat,kehadirannya mungkin mengalahkan disiplin siswa yang ada disekolah ini seakan dia tidak pernah absen seharipun, tanpa bosan menggeluti pekerjaannya sepanjang hari.

Aku semakin penasaran,ada sesuatu yang menarik bagiku yang ingin ku tahu darinya,tentang Perjuangan hidupnya yang begitu tangguh, itu Nampak dari guratan kulitnya yang menghitam dan keras karena dirajam Matahari seharian.

“nama saya usman” katanya polos saat Suarasiswa menghampirinya.

“inilah pekerjaan saya nak,mengais-ngais sampah untuk saya jual.Kalau saya tidak kerja anak istri saya mau makan apa?” katanya sambil terus saja mengorek tong sampah yang ada di depan kelas.

“Makanya rajinlah Sekolah nak supaya jangan seperti Bapak,dulu malas sekolah sehingga bodoh,hanya pekerjaan inilah yang saya bisa” Ujarnya lirih sambil memberikan Nasehat.

“Sampah-sampah ini saya kumpulkan kemudian saya jual paling saya dapat 10.000 sehari untuk beli beras kalau ada lebih bapak tabung untuk biaya sekolah anak-anak bapak”jelas pak usman sambil memasukkan beberapa gelas plastic bekas ke dalam karungnya.

Bapak punya anak yang sekolah??? Tanya Suarasiswa kaget.

“ya,anak saya yang paling besar di SMP sekarang kelas 2, biarlah saya berjuang untuk mencari uang dengan cara seperti ini yang penting anak saya bisa sekolah dari pada saya mencuri atau menipu orang,ini pekerjaan halal nak”katanya sambil menatap kami dengan penuh makna.

Nampak dari sorot matanya  beban hidup yang begitu berat di pikul oleh Oleh lelaki ini.Barangkali inilah pelajaran hidup yang dapat kita petik dari orang seperti pak Usman. Apa yang dijalaninya adalah Suara kehidupan yang menceritakan kepada kita bahwa hidup ini adalah Ibadah dan perjuangan.Mungkin bagi orang yang tidak memiliki Mata hati dia akan menjadi tuli padahal cerita hidup bapak setengah baya ini adalah suara Tuhan agar kita dapat memetik pelajaran darinya atau mungkin dapat kita katakan Pak Usman adalah Guru kehidupan.

Sungguh sangat ironis, Negara ini amatlah berdosa kepada orang-orang seperti Pak Usman.Dialah sepantasnya yang diberikan kehidupan yang layak seperti yang diamanatkan oleh konstitusi negeri ini. Pak Usman mengais sampah sepanjang hari hanya mendapat 10.000 rupiah, berbanding terbalik dengan apa yang dipertontonkan oleh penguasa di Negeri ini, hak untuk orang – orang seperti Pak Usman di gerogoti dengan leluasa oleh para koruptor.Seandainya saja uang yang dikorupsi trilyunan rupiah itu dibagikan saja kepada orang-orang seperti Pak Usman sepuluh Ribu sehari maka mungkin habislah orang-orang miskin di Negeri ini.

Mungkin itu hanyalah mimpi bagi Pak Usman, karena orang seperti pak Usman akan menjadi Rakyat Pemimpi selama penguasa di negeri pertiwi yang kaya raya ini kehilangan mata hati.

Tapi ketahuilah, Sesungguhnya Pak Usman tidak memiliki segunduk uang seperti orang kebanyakan namun dia memiliki kasih sayang Tuhan yang tidak dipunyai lebih oleh orang lain yang harganya tidak bisa disandingkan dengan harta segunungpun.Itulah kelebihan orang Miskin yang ditinggikan Derajatnya oleh Tuhan selama mereka ihlas menjalani hidup diatas punggung Dunia ini.

Banyak sekali yang diceritakan pak Usman hari ini kepada saya, dan banyak sekali hal-hal yang saya jadikan inspirasi tentang pentingnya sebuah cita-cita,perjuangan dan kesabaran.

Apa yang menjadi pertanyaanku didalam Kelas dan didepan Guru-guruku tentang makna kehidupan hari ini dijawab oleh Pak Usman dengan bahasanya sendiri yang dikutip dari Buku kehidupanya yang tertulis dalam lembaran hidupnya.

Saya sodorkan segelas air mineral kepada pak Usman.”minum pak mungkin bapak haus” kataku.

Lelaki itupun meraihnya karena mungkin juga dia haus.Dia pamit untuk meneruskan pekerjaannya mengais, mengais, dan mengais lagi, entah sampai kapan???mungkin hanya waktu dan nasib yang akan merubahnya.Semua itu Demi hidup anak dan Istrinya.Semoga Tuhan Melindunginya..Amiiin (Suarasiswa)



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s