CERPEN

OBSESI

Karya : Syaifullah (Kelas 9-1)

“ Allahuakbar Allaaaaaahuakbar “

Suara  Azan  Subuh  Baru  saja    berkumandang dengan  syahdu  dari  Masjid  Jami’  Al Islah   Kecamatan Utan,  tapi  syaiful  agaknya  masih  malas  beranjak  dari tempat tidur,  dia masih berbaring sambil menatap  langit-langit  kamarnya yang sudah usang karena rembesan  air hujan.  Subuh – subuh  begini   memang   orang   enggan   untuk bangun. Kenapa ya ?  tanya syaiful dalam hati.Tapi

Ayah  pernah  bilang   bahwa  Iblis amat aktif   menggoda manusia  pada  waktu   subuh , berarti  kalau  kita   malas bangun kita  menuruti   keinginan  iblis, kita sama dengan Iblis dong, bisik syaiful dalam hati.

Ketika  syaiful  sedang  larut  dalam lamunannya, tiba-tiba  terdengar   suara    pintu    kamarnya    diketuk    dari   luar tok ….tok …..tok……. “ful…. ..Syaiful  …….. bangun nak sudah subuh,  bapakmu  sudah berangkat tuh ke masjid “Kata Bu Dina dari balik pintu.

Dari  balik   selimut   dengan  suara  berat Syaiful menyahut “  ya ….  Bu ….  Sebentar “ .  Syaiful   adalah     anak yang rajin dan   patuh ,  dia selalu  berusaha menyenangkan  hati   kedua  orang  tuanya. Dia  rela melakukan apa saja  untuk  meringankan  pekerjaan  bapak  ibunya yang sangat dia  cintai.Terutama Ibunya, dia selalu berhati-hati dalam  bertutur  kata  kepadanya.  Dia  tidak  mau  kalau wanita   tua   yang    telah    melahirkannya    tersinggung lantaran kata-katanya. Kenapa ful ? Setetes air mata ibu akan menjadi samudera ganas yang akan menenggelamkan kita  kelak  disakratul maut. Ingat coy, dunia ini akan mengutukmu dan  Allah Swt  tidak akan ridho apabila kau berakhlaq kurang  ajar  kepada  ibu-bapakmu dan jangan Harap  kamu  bisa  sukses dalam  menempuh kehidupan dunia ini, kau akan tersesat men, kata pak Solihin sambil menepuk-nepuk  pundak  syaiful kemarin diruang redaksi suaraSiswa saat syaiful menyerahkan Naskah Cerpen.

Pak Solihin adalah salah  seorang  Guru  Agama disekolah syaiful, Beliau juga pembina SuaraSiswa SMP Negeri 1 utan sehingga mereka  kerap  bertemu   diruang redaksi dan pak Solihin banyak memberikan motivasi ke-pada syaiful tentang banyak hal.  Suatu  hari  pak Solihin pernah berkata,  “ful, kita  tidak boleh merasa rendah diri dan sombong, Bapak  dulu  juga  berasal  dari   keluarga yang miskin seperti kamu, tapi bapak punya obsesi yang kuat, Bapak yakin kelak  eful akan menjadi orang sukses karena  Bapak  lihat  eful   punya  potensi.  Cuma  pesan Bapak,kamu harus giat  belajar,  jangan  pernah   merasa kenyang  dengan   ilmu ,   jangan  pernah  merasa bosan dengan shalat dan jangan caci Ibu-bapakmu, itulah kunci kesuksesan  ful “  kata   pak   Solihin   sambil    menepuk pundak Syaiful.

Bagai disambar Gledek subuh, syaiful hampir teronjak dari bibir ranjang karena  tiba-tiba  saja Ibunya menepuk pundaknya dari belakang. “ loh belum Shalat ful  ? cepat sana ntar subuh nya keburu abis“.Syaiful bergegas ke kamar  mandi   untuk   cuci   muka ,  gosok   gigi   dan berwudhu kemudian segera menyusul Bapaknya ke Masjid  untuk  sholat  Subuh.  Selepas  Shalat  subuh  Syaiful langsung  pulang,  dia  tidak  mengikuti  teman-temannya Untuk jalan-jalan pagi, dia langsung bergegas pulang agar supaya bisa membantu ibunya.

Syaiful begitu sayang kepada Ibunya Dia selalu terenyuh kala melihat ibunya pagi-pagi sudah bangun untuk menyiapkan sarapan dan menyiapkan bekal yang akan dibawa bapaknya ke sawah, belum lagi kedua adik syaiful yang masih kecil yaitu Amri dan Dinda terkadang sering nakal dan rewel membuat ibunya kerepotan mengurusinya.

Itulah pengorbanan dan perjuangan seorang ibu dalam mengasuh anak-anaknya. Syaiful membayangkan bagaimana seorang ibunya sangat menderita  ketika sedang hamil selama 9 bulan perutnya yang membesar membuatnya merasa tidak nyaman siang dan malam, apalagi ketika akan melahirkan, wiiih sungguh sebuah perjuangan antara hidup dan mati,Syaiful menyaksikan sendiri bagaimana ibunya melahirkan adik-adiknya, setelah itu selama dua tahun anak dibesarkan dalam gendongan, di sapihnya siang malam. Pantas saja Guru agama selalu mengatakan bahwa dosa yang paling besar dan tidak akan pernah diampuni Allah Swt setelah dosa Syirik adalah durhaka kepada Ibu.

Saking larutnya syaiful dalam lamunannya ternyata dia sudah sampai dirumah, syaiful langsung melakukan tuganya sehari-hari membantu meringankan beban pekerjaan ibunya.Dengan cekatan dia langsung merapikan tempat tidurnya , membersihkan Rumah dan menimbah air untuk mengisi bak mandi. Setelah itu barulah dia membangunkan adik-adiknya.

Sambil mengusap kepala adiknya dengan penuh kasih sayang syaiful memanggil nama adik-adiknya satu persatu. “ Amri ….. amri ….. bangun dik ! Hari sudah pagi ! “ . Amri membuka matanya perlahan-lahan. “ ya … kak , sudah pagi ya ? Amri balik bertanya, Syaiful Cuma mengangguk dan tersenyum.

Amripun langsung bangun dan berlari mendapatkan ibunya didapur. Kemudian Syaiful berbalik kepada sibungsu Dinda , dengan menepuk lembut pipi adiknya  “ Dinda ….. Dinda …… bangun sayang hari sudah pagi “. Belum juga ada reaksi, Syaiful mengulang sekali lagi  dengan memperkeras sedikit suaranya, “ Dinda …. Dinda …cepat bangun hari sudah pagi, kita sarapan yuk ! kata syaiful memancing perhatian adiknya karena memang adiknya yang satu ini amat doyan dengan    makanan    pantas       saja tu lihat badannya hampir sama besarnya dengan Amri.Dinda menggeliat manja sambil memeluk guling dan membalikkan badannya membelakangi syaiful sambil berucap,“ masih mengantuk kak ! . Syaiful tidak kehabisan akal karena tidak mau membiarkan adiknya malas bangun pagi nanti terbiasa. Kemudian dia berusaha sekali lagi, dengan menepuk bahu adiknya “ Dinda…dinda… sudah sayang tidurnya ntar kalau dinda telat bangun dinda tidak akan mendapatkan apa-apa soalnya apa yang menjadi milik Dinda keburu dipatuk ayam “. Mendengar perkataan Syaiful kontan saja Dinda langsung berreaksi, “ ja……ngan kak Dinda tidak mau makanan Dinda dipatuk ayam, ayo kak kita cepat-cepat sarapan jangan sampai kalah duluan dengan ayam “ sambil menarik tangan Syaiful.

Dengan tersenyum Syaiful menggendong adiknya kekamar mandi, “ agar tidak sama dengan Ayam Dinda sebelum sarapan harus cuci muka dan gosok gigi dulu ya !?  Dinda pun mengangguk – ngguk

Pagi itu,mereka sarapan bersama inilah kebiasa-an  keluarga  Syaiful,  meski  dengan  sederhana tetapi mereka kelihatannya sangat lahap, sekali-sekali dinda berceloteh dengan pertanyaan –pertanyaan yang menggelitik hati membuat suasana menjadi semarak, terlihat dengan jelas kebahagiaan terpancar dari wajah mereka, sungguh sebuah keluarga  yang rukun dan bahagia.

Pagi itu , Syaiful segera bersia-siap pergi kesekolah, dengan penuh semangat dia mengayunkan kakinya melangkah menuju sekolah tempat dia menuntut ilmu.Syaiful bertekad, dia harus lulus Ujian tahun ini, maklum dia sudah duduk dikelas IX SMPN 1 Utan . Masih terngiang dengan jelas nasehat bapaknya  tadi malam saat mereka ngumpul bersama.Ujian tahun ini amat berat dengan empat mata pelajaran dan standar kelulusan 5,25 tapi semua itu sangat mudah apabila kita menghadapinya dengan penuh keyakinan dan belajar keras.Itulah nasehat Bapaknya untuk menumbuhkan semangat Syaiful.

Disekolahnya, Syaiful tidak mau menyia-nyiakan waktunya begitu saja, selalu dimanfaatkan untuk belajar dan tidak jarang Syaiful keluar masuk perpustakaan demi mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir nanti. Apabila ada materi pelajaran yang belum dimengerti dan dirasakan sulit tidak ragu-ragu syaiful bertanya bahkan terkadang mendatangi rumah Gurunya diluar jam sekolah.Guru-gurunya pun memberikan semangat dan mendorong Syaiful untuk belajar dan belajar supaya memperoleh prestasi yang sangat memuaskan.

Syaiful memang bukan anak orang kaya tetapi semamgatnya yang tidak pernah padam itulah yang selalu dimilikinya. Terbayang dimata Syaiful raut wajah ibunya yang penuh dengan gureatan halus menutupi kecantikannya sedang berkutit didapur menyiapkan makan siang kemudian mencuci pakaian dan mengurus kedua adik-adiknya. Sementara Bapaknya dengan pundak yang hitam lebam karena terbakar terik matahari , mencangkul dan mengolah sawah sepanjang hari demi menghidupi keluarganya.Membayangkan hak itu Syaiful jadi lebih bersemangat untuk bisa membahagiakan kedua orang tuanya dengan mempersembahkan prestasi yang gemulang disekolahnya.

Setelah bel sekolah berbunyi , Syaiful bergegas pulang agar segera dapat membantu ibunya untuk menjaga kedua adiknya supaya ibunya dapat tidur dan istirahat sedangkan   Pak Anto ayah syaiful nanti menjelang sore baru pulang dari sawah dan mereka baru bisa berkumpul bersama. Syaiful dan keluarganya selalu sholat bersama ,makan bersama, itulah kebiasaan yang selalu terpelihara dan tertanam dalam keluarganya.

Sehabis shalat Isya Bapak dan Ibunya bercengkeramah dengan Amri dan Dinda diruang tengah , Syaiful masuk kekamar untuk belajar supaya dia dapat mempersembahkan prestasi yang gemilang pada orang tuanya. Syaiful ingin sekali menjadi anak kebanggaan Ibu Bapaknya. Syaiful masih mengingat apa yang dikatakan oleh Pak Solihin disekolah bahwa cara kita berbakti dan melunasi pengorbanan kedua orang tua adalah menjadi anak yang dibanggakan orang banyak dan bermanfaat untuk semua orang.

Karena itu Syaiful bertekad dalam hati , aku harus menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain, dari segi ekonomi aku boleh tidak berkelas tapi otakku harus berkelas, Ekonomiku patut tidak diperhitungkan tapi prestasiku patut diperhitungkan.Semua ini akan ku buktikan pada Ujian akhir nanti. Semoga ……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s